2007/08/03

Panggilan Hidup Agnes Gonxhe Bojaxhiu


Nama Baptisnya Agnes Gonxhe, yang berarti kuncup bunga, lahir di Skopje, Albania, 26 Agustus 1910. Kehidupan keluarganya sangat bahagia. Ayahnya seorang yang memiliki semangat hidup yang besar dan aktif di bidang politik; ibunya bijaksana dan berkepribadian kuat, agak keras dan berdisiplin, tetapi sangat baik hati. Mereka adalah keluarga Katolik yang saleh dan rajin mengikuti misa pagi.
Keluarga yang sangat bahagia itu kehilangan segala-galanya, kecuali rumah kediaman mereka, ketika sang ayah meninggal dunia. Agnes baru berusia 9 tahun waktu itu. Prestasi Agnes di sekolah menengah sangat menonjol. Dia menunjukkan bakat yang besar di bidang tulis menulis. Namun pada usia 18 tahun ia memutuskan untuk menjadi biarawati. Berbagai kesulitan dihadapinya dengan tabah untuk mencapai cita-citanya. Ibunya adalah pendukung setia. Ia berhasil menjadi biarawati Ordo Loreto.
Tanggal 23 Mei 1929, Agnes menjadi novis dan mengganti namanya menjadi Teresa. tanggal 24 Mei 1931, ia mengucapkan kaulnya yang pertama untuk menjalaini kehidupan miskin, murni, dan taat. dan 14 Mei 1937, Suster Teresa mengucapkan kaulnya, untuk seumur hidup. Mulai saat itu ia sepenuhnya menjadi biarawati. Ia diangkat menjadi kepala sekolah di St. Mary's School.
Menjadi biarawati ternyata bukanlah panggilannya yang terakhir. Dalam sebuah perjalanan ke Darjeeling untuk merenung dan berdoa, 10 September 1946, tanpa mengalami khusus secara luar biasa, ia menjadi benar-benar yakin bahwa Tuhan menghendaki agar ia melakukan sesuatu yang baru, sesuatu yang dirasakannya amat penting. Dan ini merupakan pemikiran yang amat mengejutkan. Bagaimana tidak. Saat itu usianya hampir 40 tahun, seorang kepala sekolah yang terpandang, kini berkeyakinan bahwa Tuhan menghendaki agar ia bukan saja melepaskan kedudukannya sebgai kepala sekolah, tetapi meninggalkan sekolah, meninggalkan ordonya, meninggalkan tembok-tembok biara yang melindungi. Ia berkeyakinan bahwa Tuhan menghendaki ia turun ke jalan-jalan kota Calcutta, hidup dan bekerja di tengah-tengah kaum termiskin, di kawasan kumuh yang terletak di luar tembok biara.
Tak terbilang kesulitan-kesulitan yang dihadapi Ibu Teresa dalam upaya memenuhi panggilan hidupnya. Namun pendiri Kongregasi Misi Cinta Kasih selalu merasa bhaagia melakukan pekerjaannya. Melayani orang-orang termiskin, oarang sakit yang sekarat, mencari makanan untuk anak-anak kurus kering yang nyaris mati, adlaah perkerjaan sehari-hari. Dan semua itu antara lain membuat Ibu Teresa terpilih mendapatkan Hadiah Nobel untuk Perdamaian di Norwegia, Des 1979. Ia menerimanya dengan rasa terima kasih atas nama kaum misikin. dan jamuan makan resmi dalam rangka pemberian hadiah itu dibatalkan atas permintaan Ibu Teresa, agar anggaran untuk itu dapat dipergunakan untuk membelikan makanan bagi 15.000 orang miskin.
Ibu Teresa telah membuat perbedaan besar. Namun dengan rendah hati ia mengatakan apa yang dilakukannya itu "ibarat menjatuhkan setetes air ke lautan luas", bagi dia. Tetapi bagi kita "Laut seolah-olah tidak pernah berubah", tetapi sesungguhnya lautan itu tidak pernah lagi sama dengan sebelumnya.
(Andrias Harefa)

No comments: